Ricuh Festival Kue Talam Cederai Citra Budaya Melayu Pekanbaru, Tradisi Makan Beradab Menjadi Aksi Berebut
datanews.id - Kericuhan yang terjadi dalam Festival Kue Talam Ketan Durian sepanjang satu kilometer pada peringatan Hari Jadi ke-242 Kota Pekanbaru menuai sorotan luas. Bukan lagi soal rekor yang berhasil diraih, melainkan citra budaya Melayu yang dinilai tercoreng akibat suasana berebut makanan yang terekam dan menyebar luas di media sosial hingga menjadi perbincangan nasional.
Video-video yang memperlihatkan warga berdesakan, saling dorong, hingga berebut kue talam di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman menjadi viral di berbagai platform media sosial. Tayangan tersebut memunculkan beragam komentar, termasuk dari masyarakat luar daerah yang mempertanyakan mengapa kegiatan yang mengusung kuliner dan budaya Melayu justru berakhir dengan pemandangan yang dinilai jauh dari nilai-nilai adat dan etika Melayu.
Bagi masyarakat Melayu, makanan bukan sekadar untuk mengenyangkan perut. Makan merupakan bagian dari budaya yang sarat nilai, tata krama, dan penghormatan terhadap sesama. Dalam tradisi Melayu, makan dilakukan dengan tertib, duduk bersama, diawali doa, mengutamakan adab, serta menjunjung tinggi rasa syukur atas rezeki yang diberikan Allah.
Pepatah Melayu mengajarkan bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu dan martabat seseorang tercermin dari perilakunya. Karena itu, dalam berbagai acara adat Melayu, jamuan makan selalu dilaksanakan dengan penuh penghormatan kepada tamu, menghindari sikap rakus, tidak saling mendahului, serta menjauhi perbuatan mubazir.
Namun pemandangan berbeda justru terlihat dalam festival yang digadang-gadang sebagai perayaan kuliner khas Melayu tersebut. Ribuan warga berdesakan untuk mendapatkan kue talam, sebagian bahkan masuk ke area taman dan median jalan. Banyak pengunjung tidak kebagian, sementara sebagian lainnya membawa pulang dalam jumlah lebih banyak.
Ironisnya, festival yang seharusnya menjadi etalase budaya Melayu kepada publik malah memperlihatkan gambaran yang bertolak belakang dengan nilai-nilai yang selama ini dijunjung masyarakat Melayu Riau.
Budayawan Melayu di Riau selama ini kerap menegaskan bahwa inti kebudayaan Melayu bukan terletak pada pakaian adat, tarian, atau makanan semata, melainkan pada adab dan akhlak yang menyertainya. Ketika adab ditinggalkan, maka simbol budaya yang ditampilkan kehilangan makna substansialnya.
Pekanbaru selama ini dikenal sebagai ibu kota Provinsi Riau yang menjadi pusat kebudayaan Melayu di Indonesia. Kota ini juga sering menjadi tuan rumah berbagai kegiatan budaya serumpun yang melibatkan delegasi dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, hingga Thailand Selatan.
Karena itu, viralnya kericuhan Festival Kue Talam tidak hanya menjadi konsumsi masyarakat lokal. Rekaman tersebut dengan cepat menyebar secara nasional dan bahkan turut menjadi bahan perbincangan di kalangan masyarakat Melayu serumpun di negeri jiran melalui media sosial.
Banyak pihak menilai peristiwa tersebut menjadi catatan penting bagi penyelenggara kegiatan budaya di masa mendatang. Sebab keberhasilan sebuah festival budaya tidak cukup diukur dari jumlah peserta, panjang sajian makanan, atau rekor yang diperoleh, melainkan dari sejauh mana nilai-nilai budaya yang ingin diperkenalkan benar-benar tercermin dalam pelaksanaannya.
Apabila tujuan utama kegiatan adalah memperkenalkan budaya Melayu kepada generasi muda dan masyarakat luas, maka nilai adab semestinya ditempatkan sebagai prioritas utama. Edukasi mengenai tata tertib, mekanisme pembagian yang baik, serta pengelolaan massa yang tertib seharusnya menjadi bagian penting dari konsep acara.
Peristiwa Festival Kue Talam ini menjadi pengingat bahwa budaya Melayu tidak hanya hidup dalam bentuk makanan tradisional yang disajikan kepada masyarakat. Budaya Melayu hidup melalui sikap santun, rasa hormat, kebersamaan, serta kemampuan menjaga marwah di ruang publik.
Ketika sebuah perayaan budaya justru meninggalkan kesan ricuh dan menjadi tontonan yang dipandang tidak elok oleh masyarakat luas, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar keberhasilan sebuah acara, melainkan citra budaya yang selama ini dijaga oleh masyarakat Melayu dari generasi ke generasi.***
Forum Pemuda Remaja Masjid Dukung MBG, Ajak Masyarakat Kedepankan Adab dalam Kritik
MBG Dipangkas Jadi 4 Hari Seminggu, APBN Bisa Hemat Rp50 T Setahun
Menteri Ekraf Tinjau SPPG di Pidie, Program MBG Harus Sukses
Muslem S.Pd: MBG Untuk Siswa SMA Negeri 1 Sakti Tidak Basi dan Aman Dikonsumsi
Begini Adab Terhadap Hewan