Antara Banyak dan Sedikit
Ibnu Muflih dalam Al-Adab Asy-Syar'iyyah (I/163) berkata, "Seyogyanya diketahui bahwa hal yang dilakukan banyak manusia adalah bertentangan dengan ketentuan syar'i dan hal tersebut masyhur di antara mereka dan banyak manusia yang melakukannya. Yang wajib bagi orang yang arif adalah tidak mengikuti mereka, baik dalam ucapan maupun perbuatan, dan janganlah dia terpengaruh oleh hal tersebut setelah tersebar jika dalam kesendirian dan sedikitnya kawan".
Syaikh Muhyiddin An-Nawawi berkata, "Janganlah manusia terpedaya oleh banyaknya orang yang melakukan sesuatu yang dilarang melakukannya, yaitu kepadanya oleh orang yang tidak menjaga adab-adab ini. Laksanakanlah apa yang dikatakan Fudhail bin 'Iyadh, 'Janganlah kamu menganggap buruk jalan-jalan kebaikan karena sedikitnya orang yang melakukannya, dan janganlah kamu terpedaya dengan banyaknya orang-orang yang binasa'."[2]
Abu Wafa' bin 'Uqail dalam Al-Funun berkata, "Barangsiapa yang keyakinannya lahir dari bukti-bukti dalil, maka akan hilang pada diri sikap ikut arus dan terpengaruh oleh perubahan kondisi orang banyak : أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ "Apakah jika dia wafat atau terbunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? "[3]
Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu 'anhu adalah orang yang kokoh pendiriannya dalam berbagai keadaan, berbeda-beda berbagai kondisi tidak menjadikannya goyah ketika kaki-kaki jatuh tergelincir."
Sampai dia berkata, "Dan terkadang seseorang Muslim sampai dipersempit kehidupannya. Dan sesungguhnya agama kami berlandaskan pada mengambil dunia dan kebaikan akhirat, maka siapa yang mencari kehidupan dunia dengan cara meninggalkan kebaikan akhirat maka dia salah jalan."
Jika kita telah mengetahui hal tersebut maka tampak kebatilan argumen yang dibuat orang banyak yang jatuh ke dalam sebagian bid'ah dan hal-hal yang baru, "Bahwa mayoritas manusia melakukan ini," atau alasan-alasan lain yang batil dan penakwilan-penakwilan yang tumpul.
Dalam buku saya "Dzam Al-Katsrat wal Mutakatstsirin" terdapat banyak keterangan dari ayat Al-Qur'an dan hadits yang mengecam orang yang terpedaya dengan paham mayoritas dan bangga dengan memperbanyak amal.
Al-'Allamah Ibnul Qayyim dalam "Ighatsah Al-Lahfan min Masyahid Asy-Syaithan" (hal. 132-135 -Mawarid Al-Aman) berkata :
"Orang yang cermat pandangannya dan benar imannya tidak akan merasa gelisah karena sedikitnya kawan dan bahkan dari tiadanya kawan jika hatinya telah merasa berteman dengan generasi pertama dari orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, orang-orang yang membenarkan, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sebaik-baik teman. Maka kesendirian seseorang dalam pencariannya sebagai bukti kesungguhan dia dalam mencari kebenaran".
Ishaq bin Rahawaih pernah ditanya tentang suatu masalah, lalu dia menjawab. Maka dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya saudaramu Ahmad bin Hanbal mengatakan masalah ini seperti itu." Maka dia menjawab, "Saya tidak menyangka bahwa seseorang sepakat denganku dalam masalah ini."
Dia tidak merasa kesepian setelah tampak kebenaran baginya meskipun tidak ada yang sependapat dengannya. Sesungguhnya kebenaran jika telah tampak dengan jelas, maka tidak membutuhkan saksi yang mendukungnya. Sebab hati melihat kebenaran sebagaimana mata melihat matahari. Maka, jika seseorang telah melihat matahari, dan berdasarkan keilmuan dan keyakinannya bahwa matahari telah terbit, maka dia tidak membutuhkan saksi untuk itu dan tidak membutuhkan orang untuk menyetujui atas apa yang dilihatnya.
Betapa bagusnya apa yang dikatakan Abu Muhammad Abdurrahman bin Isma'il yang terkenal dengan Abu Syamah[4] dalam kitabnya tentang hal-hal baru dan bentuk-bentuk bid'ah[5], terdapat perintah memegang teguh jama'ah. Maka yang dimaksud denganya adalah, memegang teguh kebenaran dan mengikutinya, meskipun orang yang berpegang teguh kepadanya sedikit, sedangkan orang yang melanggarnya banyak. Sebab kebenaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh jama'ah pertama pada masa Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam dan shahabatnya, dan tidak diukur oleh banyaknya orang yang mengikuti bid'ah mereka.
'Amr bin Maimun Al-Audi berkata, "Saya telah menyertai Mu'adz di Yaman, dan saya tidak berpisah dengannya hingga saya menguburkannya di Syam. Kemudian setelah itu, saya selalu menyertai orang terpandai dalam ilmu fiqh, Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu, maka saya mendengar dia berkata, "Hendaklah kalian memegang teguh jama'ah. Sebab tangan Allah di atas jama'ah". Pada suatu hari saya mendengar dia berkata, 'Akan memimpin kalian para pemimpin yang mengakhirkan shalat dari waktunya, maka shalatlah kalian tepat pada waktunya, sebab demikian itu adalah yang wajib, dan shalatlah kalian bersama mereka karena shalat itu bagi kalian adalah tambahan (sunnah).' Saya berkata, 'Wahai shahabat Muhammad! Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan kepada kami?' Ia berkata, "Apakah itu?' Saya berkata, 'Engkau memerintahkan aku berjama'ah dan menghimbauku kepadanya kemudian kamu berkata, 'Shalatlah kamu sendirian, dan demikian itu adalah yang wajib, dan shalatlah kalian bersama jama'ah, dan dia sunnah?' Ia berkata, 'Wahai 'Amr bin Maimun. Saya mengira kamu orang yang terpandai tentang fiqh dari penduduk negeri ini. Kamu mengerti, apa jama'ah itu?' Saya berkata, 'Tidak.' Ia berkata, 'Sesungguhnya mayoritas masyarakat adalah orang-orang yang berpaling dari jama'ah. Jama'ah adalah sesuatu yang sesuai kebenaran, meskipun kamu hanya sendirian'."[6]
Dalam riwayat lain disebutkan, "Maka dia memukul pahaku dan berkata, 'Celakalah kamu! Sesungguhnya mayoritas manusia berpaling dari jama'ah. Sesungguhnya jama'ah adalah apa yang sesuai dengan keta'atan kepada Allah 'Azza wa Jalla'."
Nu'aim bin Hammad berkata, "Yakni, jika jama'ah telah rusak, maka kamu harus memegang teguh apa yang telah dilakukan jama'ah ketika sebelum rusak, meskipun kamu sendirian, maka sesungguhnya ketika itu kamu adalah jama'ah."
Hasan Al-Bashri berkata, 'Sunnah itu -demi Dzat yang tiada Tuhan selain Dia- di antara orang yang berlebih-lebihan dan orang yang meremehkan. Maka bersabarlah kalian di atasnya, semoga Allah merahmati kalian. Sebab Ahlus Sunnah adalah minoritas di antara manusia pada masa lalu dan mereka juga manusia minoritas pada masa sesudahnya. Yaitu orang-orang yang tidak pergi bersama orang-orang yang bermewah-mewahan dalam kemewahan mereka, dan juga tidak besama orang-orang yang mengikuti bid'ah dalam kebid'ahan mereka, dan mereka sabar atas Sunnah hingga bertemu dengan Tuhan mereka. Maka dalam keadaan demikianlah kalian harus berada, insya Allah.'
Pentingnya Teman yang Sholeh di Zaman Keterasingan