Antara Banyak dan Sedikit
Muhammad bin Aslam Ath-Thusi[7], seorang imam yang disepakati keimamannya adalah orang yang paling mengikuti sunnah pada masanya, hingga dia berkata, "Tidak sampai kepadaku Sunnah dari Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam melainkan saya mengamalkannya. Dan sungguh saya ingin thawaf di Ka'bah dengan naik unta, namun tidak memungkinkan bagi saya untuk melakukannya. Hingga sebagai ulama pada msanya ditanya tentang As-Sawad Al-'Azham yang disebutkan dalam hadits.
إذَأ اخْتَلَفَ النَّاسُ فَعَلَيكُمْ بِالسَّوَادِاْلأَعْظَمِ
"Jika manusia berselisih maka hendaklah kalian memegang teguh As-Sawad Al-'Azham."[8]
Maka dia berkata, "Muhammad bin Aslam Ath-Thusi adalah As-Sawad Al-'Azham."[9]
Benar, demi Allah, bahwa di satu masa bila di dalamnya terdapat orang yang mengerti Sunnah dan menda'wahkannya, maka dia adalah hujjah, ijma', jama'ah, dan jalan orang-orang Mukmin, barangsiapa memisahkandiri darinya dan mengikuti yang lainnya, maka Allah akan memalingkan dia kepada apa yang dia berpaling dan Allah akan memasukkan dia ke Jahannam, seburuk-buruknya tempat kembali."[10]
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:[11]
"Barangsiapa yang mempunyai pengalaman tentang ajaran yang Allah mengutus Rasul-Nya dengannya dan apa yang dilakukan orang-orang musyrik dan Ahli Bid'ah pada hari ini, niscaya dia akan mengetahui bahwa antara salaf dan mereka yang meninggalkannya terdapat jarak yang jauh lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat, dan bahwa mereka pada sesuatu, sedangkan salaf pada sesuatu yang lain, seperti dikatakan.
Ia berjalan ke timur dan kamu berjalan ke barat
Betapa jauhnya antara timur dan barat.
Dan perkaranya -demi Allah- lebih besar dari apa yang telah kami sebutkan.
Sesungguhnya Imam Bukhari dalam Ash-Shahih II/115 menyebutkan riwayat dari Ummu Darda' Radhiyallahu 'anha, ia berkata, "Abu Darda' mendatangi saya dengan marah, maka saya berkata kepadanya, 'Ada apa?' Ia berkata, "Demi Allah, saya tidak mengetahui pada mereka sesuatu pun dari perkara Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam kecuali mereka semua mengerjakan shalat."
Imam Bukhari[12] juga menyebutkan bahwa Az-Zuhri berkata, "Saya mendatangi Anas bin Malik di Damaskus dan dia sedang menangis. Maka saya berkata kepadanya, "Apa yang menyebabkan anda menangis?" Ia berkata, "Saya tidak mengetahui sesuatu tentang apa yang saya dapatkan kecuali shalat ini, dan shalat ini pun telah disia-siakan."
"Ini adalah fitnah terbesar yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu, "Bagaimana jika kalian telah diliputi fitnah di mana orang menjadi tua dan anak kecil tumbuh berkembang di dalamnya, dia berjalan pada manusia dan mereka menjadikannya sebagai sunnah, ketika hal itu diubah, dikatakan, "Sunnah telah diubah?" atau, "Ini adalah kemungkaran."[13]
"Ini adalah salah satu dalil bahwa amal jika tidak sesuai Sunnah, maka tidak ada nilainya dan tidak boleh diperhatikan. Juga sebagai bukti bahwa amal tersebut telah berjalan pada arah yang berbeda dengan arah Sunnah sejak masa Abu Darda' dan Anas."[14]
Abul Abbas Ahmad bin Yahya[15] berkata, "Muhammad bin Ubaid bin Maimun bercerita kepadaku dari Abdullah bin Ishaq Al-Ja'fari, ia berkata, "Abdullah bin Hassan banyak duduk bersama Rabi'ah. Ia berkata, 'Lalu pada suatu hari mereka menyebut tentang berbagai sunnah, maka seseorang yang ada di majelis itu berkata, 'Apa yang dilakukan oleh manusia tidak seperti ini!' Maka Abdullah berkata, 'Bagaimana pendapatmu jika banyak orang bodoh berlaku sebagai para hakim, apakah mereka menjadi hujjah atas As-Sunnah?' Maka Rabi'ah berkata, "Saya bersaksi bahwa ini adalah ucapan anak-anak para Nabi."[16]
Maka, seorang Muslim yang sejati adalah orang yang tidak terkontaminasi oleh maraknya bentuk-bentuk bid'ah dalam memahami bentuk-bentuk sunnah. Sebab hal-hal yang telah mentradisi sebagaimana dia itu membangun beberapa pokok, dia juga menghancurkan beberapa pokok, dan dia sangat mendominasi. Maka, melepaskan dari cengkramannya membutuhkan latihan jiwa dan memaksakan diri dalam melaksanakan segala bentuk sunnah.[17]
Betapa indahnya riwayat yang disebutkan Al-Imam Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Syaraf Ashhab Al-Hadits (hal.7) dengan sanad shahih dari Al-Auza'i rahimahullah:
"Hendaklah kamu berpegang dengan riwayat-riwayat dari salaf, meskipun manusia menolak kamu, dan hindarilah olehmu pendapat-pendapat manusia, meskipun mereka menghiasinya kepadamu dengan perkataan yang manis."
Dan Allah adalah yang memberikan petunjuk kepada jalan kebenaran.
Footnote
[1] Al-Hawadits wal Bida':71 dan lihat Marwiyyat Du'a Khatmi Al-Qur'an : 66
oleh Syaikh Bakr bin Abu Zaid, maka di dalamnya terdapat tambahan
penjelasan
[2] Tasyabbuh Al-Khasisi (hal. 33 dengan tahqiq saya) oleh Adz-Dzahabi
[3] QS Ali 'Imran/3 : 144
[4] Abu Syamah wafat pada tahun 655 h. Lihat biografinya dalam Tadzkirah Al-Huffadz IV/1460
[5] Yaitu dalam kitabnya Al-Baits 'ala Inkar Al-Bida' wal Hawadits 19-20, dan Ibnu Abil 'Izz Al-Hanafi menukil darinya dalam Syarah Ath-Thahawiyah 362
[6] Diriwayatkan oleh Al-Lalikai dalam As-Sunnah nomor 160, dan lihat buku saya Ad-Da'wah Ilallah 89-95 pasal Al-Jama'ah Musthalah wa Bayan
[7] Wafat tahun 242 H. Lihat biografinya dalam Siyar An-Nubala' XII/195
[8] HR. Ibnu Majah 2950, Ibnu Abi 'Ashim 84 dan Al-Lalikai 153 dari Anas, dan sanadnya sangat dha'if. Sebab di dalamnya terdapat Abu Khalaf al-Makfuf yang nama aslinya Hazim bin 'Atha'. Ia ditinggalkan sekelompok ulama dan dinyatakan pendusta oleh Ibnu Ma'in
[9] Hilyah Al-Auliya IX/238-239 dan darinya Adz-Dzahabi meriwayatkannya dalam Siyar An-Nubala' XII/196
[10] Sebagaimana diisyaratkan dalam surat An-Nisa/4 :115
[11] Ighatsah Al-Lahfan:271-273
[12] Nomor 530 dan lihat An-Nukat Azh-Zhirat I/385
[13] HR. Ad-Darimi I/64 dan Al-Hakim IV/514 dan lihat takhrijnya dalam buku saya Arba'i Asy-Syakhsyiyyah Al-Islamiyyah no. 40
[14] Ini adalah perkataan yang benar, wajib dicatat dengan tinta emas!
[15] Dia adalah Imam Tsa'labi yang masyhur (wafat 291 H). Lihat biografinya dalam Siyar An-Nubala' XIV/5 oleh Adz-Dzahabi
[16] Al-Ba'its 'ala A'lam Inkar Al-Bida' wal Hawadits hal. 51 oleh Abu Syamah.
[17] Lihat Marwiyyat Du'a Khatmi Al-Qur'an hal. 75 oleh Syaikh Bakar bin Abu Zaid
Sumber: almanhaj.or.id
Pentingnya Teman yang Sholeh di Zaman Keterasingan