Bid'ah di Bulan Sya'ban
Al-Fatani rahimahullah berkata setelah ucapannya yang telah dikutip di atas, "Dikalangan awam shalat ini telah menimbulkan fitnah yang besar sehingga karena sebab ini banyak terjadi penyimpangan, kefasikan dan dilanggarnya perkara-perkara haram yang tak dapat dipungkiri. Sehingga para ulama takut diturunkannya bencana karena sebab ini, sehingga mereka menyingkir ke tengah padang pasir.
Perbuatan bid'ah ini pertama kali muncul di Baitul Maqdis pada tahun 448 H. Zaid bin Aslam berkata, "Tidak kami dapatkan seorang pun dari para guru kami yang menghiraukan malam bara'ah (kebebasan) dan keutamaannya dibanding malam lainnya. Siapa yang beramal berdasarkan riwayat yang jelas bahwa dia riwayat dusta, maka sesungguhnya dia termasuk pembantu setan."[3]
Silakan rujuk kitab Al-Maudhu'at, Ibnu Jauzi, 2/127, Al-Manar Al-Munif Fi Ash-Shahih wa Adh-Dha'if, Ibnu Qayim, hal. 98, Al-Fawaid Al-Majmuah, Asy-Syaukani, hal. 51.
Sebagian masyarakat menamakan Asy-Sya'baniyah untuk hari-hari terakhir di bulan Sya'ban. Mereka berkata, 'Ini merupakan hari-hari perpisahan terhadap makan, maka gunakanlah kesempatan untuk makan sebelum datang bulan Ramadan. Sebagian ahli Bahasa bahwa sumber hal tersebut diambil dari orang-orang Nashrani, mereka dahulu melakukannya sebelum mereka mulai berpuasa.
Kesimpulannya, tidak ada perayaan di bulan Sya'ban, tidak juga ada ibadah khusus di tengahnya dan di akhirnya. Perbuatan tersebut merupakan bid'hah dan perkara-perkara baru dalam agama.
Wallhua'lam.
Sumber: almanhaj.or.id
Keutamaan Bulan Sya'ban Antara Anjuran dan Larangan
Amalan di Bulan Rajab Antara Sunah dan Bid'ah
Siapa Bilang Tahlilan Bid'ah
Amalan Setelah Ramadhan