Hukum Menerima Angpao
Orang Muslim Tidak Boleh Meniru
Syaikhul islam menegaskan, seorang muslim tidak boleh memberikan hadiah kepada muslim yang lain pada hari raya orang kafir. Beliau mengatakan,
ومن أهدى من المسلمين هدية في هذه الأعياد ، مخالفة للعادة في سائر الأوقات غير هذا العيد ، لم تقبل هديته ، خصوصا إن كانت الهدية مما يستعان بها على التشبه بهم ، مثل : إهداء الشمع ونحوه في الميلاد أو إهداء البيض واللبن والغنم في الخميس الصغير الذي في آخر صومهم ، وكذلك أيضا لا يهدى لأحد من المسلمين في هذه الأعياد هدية لأجل العيد ، لا سيما إذا كان مما يستعان بها على التشبه بهم كما ذكرناه
Seorang muslim yang memberikan hadiah ketika hari raya orang kafir, padahal itu tidak pernah dia lakukan di luar hari raya tersebut maka hadiahnya tidak boleh diterima. Terlebih jika hadiah tersebut membantu untuk ikut meniru kebiasaan orang kafir, seperti menghadiahkan lilin atau semacamnya ketika natal, atau menghadiahkan telur, susu, dan daging kambing ketika hari kamis di tanggal terakhir puasa mereka. Demikian pula, tidak boleh memberi hadiah kepada orang muslim pada hari raya non mulim, dalam rangka memeriahkan hari tersebut. Terlebih jika benda itu mendukung untuk meniru kebiasaan mereka, sebagaimana yang telah kami sebutkan. (Iqtidha' Shirat al-Mustaqim, 1:461)
Tidak berlaku sebaliknya
Penjelasan di atas, terkait hukum menerima hadiah dari orang kafir. Namun hukum ini tidak berlaku untuk kasus sebaliknya, memberikan hadiah kepada orang kafir ketika hari raya mereka. Ulama Hanafi menegaskan, memberi hadiah dari orang kafir dalam rangka memeriahkan hari raya mereka, hukumnya terlarang, dan bahkan mereka anggap sebagai pembatal islam. Az-Zaila'i (ulama hanafi) mengatakan,
(والإعطاء باسم النيروز والمهرجان لا يجوز) أي الهدايا باسم هذين اليومين حرام بل كفر , وقال أبو حفص الكبير رحمه الله لو أن رجلا عبد الله خمسين سنة ثم جاء يوم النيروز , وأهدى لبعض المشركين بيضة ، يريد به تعظيم ذلك اليوم ، فقد كفر , وحبط عمله .
"(Hadiah dengan nama Nairuz dan Mihrajan, hukumnya tidak boleh). Maksudany, hadiah dalam rangka memeriahkan dua hari ini hukumnya haram bahkan kekafiran. Abu Hafs Al-Kabir mengatakan, 'Jika ada orang yang beribadah kepada Allah selama 50 tahun. Kemudian dia datang pada hari Nairuz, dan memberikan hadiah telur kepada orang musyrik, dalang rangka memeriahkan dan mengagungkan hari raya itu maka dia telah murtad dan amalnya terhapus." (Tabyin Al-Haqaiq, 6/228).
Kesimpulan yang bisa kita catat dari penjelasan di atas, bahwa kita dibolehkan menerima hadiah dari orang kafir pada hari raya mereka, dengan syarat,
Hadiah itu bukan termasuk sembelihan mereka
Hadiah itu bukan termasuk benda yang memfasilitasi orang untuk meniru ciri khas mareka saat hari raya.
Menerima hadiah itu sama sekali tidak dikesankan mendukung acara mereka.
Menerima hadiah itu dalam rangka mengambil hati mereka, dengan harapan, mereka bisa simpati kepada islam.
Dengan demikian, jikamenerima hadiah angpaomemenuhi beberapa persyaratan di atas, hukumnya dibolehkan.
Allahu a'lam.
Sumber: konsultaaisyariah.com
Jangan Engkau Gadaikan Aqidahmu
Hijab Wanita Muslimah
Berpakaiannya Wanita Muslimah
Muslim Harus Bergembira Menyambut Ramadhan
Hukum Ikut Merayakan Pergantian Malam Tahun Baru Masehi