Dampak Banjir, Bupati Pidie Inap Bersama 400 Pengungsi Blang Pandak

Hasballah - Jumat, 05 Desember 2025 18:20 WIB
Dampak Banjir, Bupati Pidie Inap Bersama 400 Pengungsi Blang Pandak
Sigli -Malam belum sepenuhnya larut ketika Bupati Pidie, H Sarjani Abdullah tiba di pos pengungsian utama yang menampung lebih dari 400 warga terdampak banjir bandang di Desa Blang Pandak, Kecamatan Tangse, Pidie.

Suasana gelap. Lampu-lampu darurat menggunakan genset kadang redup, serta aroma tanah basah menjadi saksi betapa beratnya situasi yang dihadapi masyarakat setelah bencana banjir bandang menerjang kawasan tersebut.

Sejak memasuki area posko pada Rabu sore (3/12/2025), bupati langsung menyapa para pengungsi tanpa protokol berlebih. Ia memeriksa logistik, dapur umum, layanan kesehatan lalu menuju meunasah tempat sebagian besar keluarga bermalam.

Dalam kondisi sederhana itu, terlihat beberapa anak tidur sambil dipeluk ibunya, sementara laki-laki dewasa berkumpul membahas kondisi rumah masing-masing yang rusak berat dan bahkan hilang sama sekali.

Memilih Menginap Bersama Warga
Seusai meninjau sejumlah fasilitas darurat, bupati menyatakan niatnya untuk bermalam di tenda pengungsi. Namun bupati menegaskan bahwa kehadirannya adalah bentuk empati sekaligus cara untuk memantau penanganan darurat secara langsung.

"Saya ingin memastikan penangan bencana ini cepat dan tepat sasaran, korban perlu dibantu sesegera mungkin," katanya.

Dalam percakapan dengan warga, bupati banyak mendengarkan. Ia mendengar kebutuhan warga, menanyakan kondisi balita dan lansia, serta memastikan bahwa pos kesehatan yang dikelola tim medis siap siaga sepanjang malam.

Di pos kesehatan, bupati berdialog dengan tenaga medis yang menangani warga yang mengalami diare ringan, demam, dan keluhan pernapasan akibat udara lembap.

"Pastikan obat-obatan mencukupi dan pengawasan terhadap anak-anak dilakukan lebih intensif. Mereka paling rentan terkena penyakit di situasi seperti ini," tegasnya.

Bupati juga berkoordinasi dengan relawan BPBD dan Dinas Sosial terkait kebutuhan tambahan, seperti tenda darurat, selimut, alas tidur, dan popok untuk bayi. Ia meminta agar distribusi dari gudang logistik kabupaten dipercepat meski kondisi cuaca masih berubah-ubah.

Suara Hati Pengungsi
Bagi warga, kehadiran bupati bukan hanya soal kebijakan atau instruksi. Malam itu, ia menjadi tempat mencurahkan keresahan warga terdampak. Seorang lansia, Agus Abu (75 tahun), Tuha Peut Desa setempat memegang tangan bupati sambil mengungkap perasaannya, lalu menceritakan bahwa sebanyak tujuh rumah dibawa banjir bandang, dan puluhan rumah lainnya rusak berat.

Bupati merangkulnya dan menenangkan, mengatakan bahwa pemerintah akan secepatnya membantu pemulihan rumah-rumah warga setelah bencana ini.

"Beliau duduk bersama kami, makan apa yang kami makan, dan begadang bersama sampai larut. Kami merasa tidak sendiri," ungkap salah seorang pengungsi lainnya," kata dia.

Disela kebersamaan, warga bersama Bupati ikut serta memasak makanan Leumang khas daerah setempat. Larut dalam cerita bencana dan rencana pemulihan yang akan dilakukan selanjutnya oleh pemerintah.

Pada penanganan sementara ini, ia juga menyampaikan bahwa alat berat sudah didatangkan untuk membersihkan endapan lumpur dan akses transportasi yang terhambat akibat banjir bandang yang terjadi pada 27 November lalu.

"Yang utama adalah keselamatan warga. Pemerintah bekerja maksimal dan kita akan terus berada di lapangan sampai keadaan kembali normal," kata bupati.

Selain penanganan langsung, Pemerintah Pidie sebelumnya juga telah menetapkan status tanggap darurat. Semua OPD terkait diperintahkan bekerja maksimal, baik penanganan masa panik maupun pasca bencana.

Pemerintah akan melakukan pendataan kerusakan rumah, fasilitas umum, serta menghitung kebutuhan rehabilitasi jangka pendek dan jangka panjang.

"Ini bukan hanya bencana bagi warga, tapi ujian bagi kita semua. Saya ingin memastikan bahwa pemerintah hadir dari awal hingga akhir, dari darurat hingga pemulihan," ucapnya. (*)

SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru