Balasan Bagi Orang yang Menjadikan Agama Sebagai Guyonan
Oleh Ustadz Said Yai Ardiansyah Lc, MA
Rio Agusri - Minggu, 21 Januari 2024 12:29 WIB
Datanews.id-وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ وَإِنْ تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لَا يُؤْخَذْ مِنْهَا ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أُبْسِلُوا بِمَا كَسَبُوا ۖ لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ
Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan (ke dalam neraka), karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung selain Allâh dan tidak pula pemberi syafaat. Meskipun dia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya tidak akan diterima itu darinya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka) karena apa-apa yang telah mereka lakukan. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan adzab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu. [Al-An'am/6:70]
TAFSIR RINGKAS
"Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau,"
Maksudnya, tinggalkanlah mereka! Urusan mereka tidaklah penting bagimu.
Pada ayat ini terdapat tantangan untuk mereka karena kekafiran, pengejekan dan penghinaan yang mereka lakukan. Allâh Azza wa Jalla telah mengabarkan di dalam surat al-Hijr bahwa Allâh Azza wa Jalla telah memelihara Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dari orang-orang yang menghina. Allâh berfirman:
إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ
Sesungguhnya Kami memeliharamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu)." [Al-Hijr/15:95]
"Dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengannya," yaitu dengan Al-Qur'an itu, "agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri,"
maksudnya agar setiap jiwa selamat dari adzab yang diakibatkan oleh kesyirikan dan perbuatan-perbuatan maksiat.
"Tidak akan ada baginya pelindung selain Allâh," yang bisa melindunginya dari adzab tersebut, "dan tidak pula pemberi syafaat," yang bisa memberikan syafaat sehingga dia diselamatkan dari adzab neraka. "Meskipun dia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya tidak akan diterima itu darinya,"
maksudnya meskipun dia menyerahkan apapun yang dia miliki, bahkan jika dia menebus dengan emas sepenuh bumi, niscaya tidak akan bermanfaat hal tersebut dan tetap tidak bisa selamat dari neraka.
"Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka) karena apa-apa yang telah mereka lakukan. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih" yang sangat panas "dan adzab yang pedih" yang sangat menyakitkan, "disebabkan kekafiran mereka dahulu" terhadap Allâh Azza wa Jalla , ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, sehingga menyebabkan buruknya ruh-ruh mereka. Dan tidak ada yang cocok dengan sifat mereka tersebut kecuali adzab neraka.[1]
PENJABARAN AYAT
Firman Allâh Azza wa Jalla :
وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا
Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, "Biarkanlah mereka dan berpalinglah dari mereka! Biarkanlah mereka sementara waktu karena sesungguhnya mereka akan mendapatkan adzab yang besar. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَذَكِّرْ بِهِ
'Peringatkanlah (mereka) dengannya'
maksudnya adalah peringatkan manusia dengan al-Qur'an ini dan berikanlah mereka peringatan akan balasan Allâh Azza wa Jalla dan adzab-Nya yang sangat pedih di hari kiamat."[2]
Imam al-Baghawi rahimahullah mengatakan, "yaitu (tinggalkanlah) orang-orang kafir yang jika mereka mendengar ayat-ayat Allâh, mereka mengejeknya dan saling bermain-main ketika menyebutnya. Disebutkan pendapat lain, yaitu: sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan hari raya untuk setiap kaum. Setiap orang menjadikan agama mereka yaitu hari raya mereka sebagai waktu untuk bermain dan bersenda gurau, sedangkan hari raya kaum Muslimin adalah Shalat, bertakbir, melakukan kebaikan-kebaikan, seperti para hari: Jumat, hari raya 'Idul-Fithr dan 'Idul-Adhha."[3]
Ibnu 'Asyûr rahimahullah mengatakan, "(Kata) 'dînahum' bisa bermakna millah (agama) yang mereka beragama, menjadikan jalan hidup dan mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dengannya … dan bisa bermakna adat (kebiasaan). … dan bisa berarti sebagian dari orang-orang musyrik yang bodoh menjadikan kebiasaan mereka bermain-main dan bersenda gurau."[4]
Dari ketiga nukilan di atas kita bisa pahami bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalla untuk meninggalkan orang-orang kafir tersebut.
Adapun arti 'dînahum' pada ayat di atas, terdapat tiga pendapat dalam menafsirkannya, yaitu:
1. Dîn yang berarti millah (agama), maksudnya bermain-main dan bersenda gurau ketika mendengar ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla dibacakan adalah bagian dari agama mereka yang mereka mendekatkan diri kepada Tuhan mereka dengannya.
SHARE:
Tags
Berita Terkait
KPK Tahan Menteri Agama periode 2019-2024
Agama Seseorang Tergantung Temannya
Ketentuan Dasar Tajdid yang Benar
Taqiyah, Topeng Kemunafikan Kaum Syi’ah
Komentar
Berita Terbaru
Bupati Pidie Jaya: Musrenbang Wadah Partisipasi Masyarakat dan Pemerintah
Pelayanan IGD RS TAS Beureunuen Pidie Rendah, Direktur Bilang Begini
Setahun Kepemimpinan, H. Sibral Malasyi - Hasan Basri Komit Bangun Pidie Jaya
Di Tengah Kesibukan, Bupati Pidie Jaya Kembali Kunjungi Warga Sakit
Gubernur Aceh Tunjuk Nurlis Jadi Juru Bicara Pemerintah
Sekda Aceh Buka UKW dan Seminar Nasional AMSI Aceh, Tekankan Penguatan Ekosistem Media Pascabencana
ADHI Lakukan Fundamental Bisnis Review Demi Perkuat Kualitas Kinerja