DPW-PA Pidie Peringati 15 Tahun Wafatnya Deklarator GAM
Hasballah - Selasa, 03 Juni 2025 18:08 WIB
Sigli - Dewan Pimpinan Wilayah Partai Aceh (DPW-PA) Pidie di bawah pimpinan H.Sarjani Abdullah (Abu Sarjani) menggelar kegiatan doa bersama di Kantor Pusat DPW-PA Pidie, Selasa (3/6/2025).
Kegiatan doa bersama dan yasinan ini dipimpin oleh waled Amri dihadiri Ketua DPW PA, Ketua KPA Usman Tambo, Sekretaris, Muhamad Iriawan, Anwar Sastra Putra, SH unsur ulama, putro Aceh dan sagoe PA se-Kabupaten Pidie.
Kegiatan itu dalam rangka peringatan 15 tahun meninggalnya Deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Dr.Teungku Hasan Muhammad Ditiro, MS, MA, LL.D, Ph.D.
Informasi diperoleh, saat meninggal dunia ia didampingi tokoh GAM, Teungku Malik Mahmud dan Dr. Zaini Abdullah serta petinggi lainnya dan ratusan kombatan GAM.
Almarhum yang lahir di Tiro, Pidie, 25 September 1925 ini dikebumikan di gampong Meureu, Indrapuri, Aceh Besar, di pemakaman keluarga, satu lokasi dengan kakeknya, Tgk Chik Ditiro.
Tengku Hasan Ditiro merupakan tokoh perjuangan GAM, yang mendeklarasikan perjuangan di Gunung Halimon, Pidie, tahun 1976.
Semasa hidupnya dan pada perjuangan saat itu ia bercita-cita agar Aceh terbebas dari NKRI untuk mendirikan negara Aceh berdaulat.
Dampak dari konsep dan ide itu, ia diburu oleh pemerintah RI dan ia hengkang keluar negeri, Swedia selama 30 tahun lebih.Kendati ia berada di luar negeri komunikasi untuk mendirikan Negara Aceh tetap solid dan konsisten.
Dalam situasi Aceh yang tidak kondusif itu, ternyata Allah SWT berkendak lain. Pada Minggu (26/12/2004) Aceh dilanda gempa disertai tsunami yang meluluh-lantakkan seluruh potensi kehidupan masyarakat Aceh.
Ratusan ribu orang meninggal dunia, termasuk harta benda, rumah-rumah, toko, kantor gedung, semua hancur dan lenyap akibat disapu rata ombak tsunami terutama kawasan pesisir.
Hikmah dampak musibah besar itu, tepatnya pada 15 Agustus 2005, Pemerintah RI-GAM bersepakat damai, dengan fasilitator mantan Presiden Finlandia Marti Ahtisari, di kota Helsinki, Finlandia, ditandai penandatanganan MOU Helsinki, kemudian melahirkan Undang-undang Pemerintahan Aceh (UUPA).
Diceritakan, damai sudah terjadi, sejumlah elite GAM di luar Negeri tahun 2008, pulang ke Aceh termasuk Paduka yang Mulia Wali Nanggroe Aceh, Teungku Hasan Muhammad Ditiro setelah mendapat rekomendasi sebagai warga Negara Indonesia.
Kini, 15 tahun sudah sang deklarator GAM pergi untuk selamanya, doa- doa tetap bergulir dari segenap Rakyat Aceh dan kepergiannya menukilkan kesan dan inovasi, membangkitkan motivasi bangunlah Aceh dalam bingkai NKRI.
Paduka yang mulia, Teungku Hasan Muhamnad Ditiro, berbaringlah disana disisi Tuhan yang memiliki cinta nan abadi. (Hasballah Basyah)
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Bupati Pidie Jaya: Musrenbang Wadah Partisipasi Masyarakat dan Pemerintah
Setahun Kepemimpinan, H. Sibral Malasyi - Hasan Basri Komit Bangun Pidie Jaya
Di Tengah Kesibukan, Bupati Pidie Jaya Kembali Kunjungi Warga Sakit
Gubernur Aceh Tunjuk Nurlis Jadi Juru Bicara Pemerintah
PSAP Sigli vs Arfalaky FC, Laga Final Liga 4 Aceh Capai Puncak
Penyuluh Pertanian Kabupaten Pidie Gelar Syukuran dan Santuni Yatim
Komentar