Jangan Mencela Penyakit Demam

Oleh: M. Saifudin Hakim
Rio Agusri - Rabu, 24 Januari 2024 20:37 WIB
Jangan Mencela Penyakit Demam
Ilustrasi (foto int)

datanews.id -Di antara kewajiban kaum muslimin ketika tertimpa penyakit adalah bersabar dan menahan diri berkeluh kesah, atau berkata-kata yang menunjukkan protes terhadap takdir Allah Ta'ala atas dirinya.

Begitu pula sikap yang seharusnya ditunjukkan jika kita terkena penyakit demam, penyakit yang sering kita jumpai di sekitar kita. Hendaknya kita bersabar, sebagaimana kita berusaha bersabar ketika menghadapi ujian dan musibah yang lainnya.

Diriwayatkan dari Jabir bin 'Abdillahradhiyallahu 'anhu,Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam,menjenguk Ummu As-Saaib atau Ummul Musayyib[1]. Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallamberkata kepadanya,

مَا لَكِ؟ يَا أُمَّ السَّائِبِ أَوْ يَا أُمَّ الْمُسَيِّبِ تُزَفْزِفِينَ؟

Ada apa denganmu, Ummu As-Saib atau Ummul Musayyib, badanmu bergetar (karena demam, pent.)."

Ummu As-Saib berkata,

الْحُمَّى، لَا بَارَكَ اللهُ فِيهَا

"(Ini karena) demam, semoga Allah tidak memberikan keberkahan kepadanya."

Maka Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallammengatakan,

لَا تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ، كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

"Janganlah Engkau mencela demam. Karena demam itu bisa menghilangkan kesalahan-kesalahan (dosa) manusia, sebagaimanakiir(alat yang dipakai pandai besi) bisa menghilangkan karat besi."(HR. Muslim no. 2575)

Demam itu terjadi karena takdir Allah Ta'ala, Allah-lah yang telah menetapkannya. Dan Allah Ta'ala pula yang mengangkat atau menyembuhkannya. Segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah Ta'ala. Oleh karena itu, tidak sepatutnya seseorang mencela demam, karena hal ini sama saja dengan mencela pencipta demam, yaitu Allah Ta'ala.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaiminrahimahullahberkata,

وعلى المرء إذا أصيب أن يصبر ويحتسب الأجر على الله عز وجل وأخبر أنها تذهب بالخطايا كما يذهب الكير بخبث الحديد فإن الحديد إذا صهر على النار ذهب خبثه وبقي صافيا كذلك الحمى تفعل في الإنسان كذلك

"Menjadi kewajiban atas seseorang jika tertimpa (demam) untuk bersabar dan mengharap pahala dari Allah Ta'ala dan mengabarkan bahwa demam itu bisa menghapus kesalahan (dosa) sebagaimanakiirbisa membersihkan karat (kotoran) besi. Hal ini karena jika besi dipanaskan di atas api, hilanglah karat yang menempel, dan besi itu pun menjadi bersih (mengkilap) kembali. Demikian pula demam, akan berdampak seperti itu juga bagi diri manusia (yaitu membersihkan dosa dan kesalahan, pent.)."(Syarh Riyadhus Shalihin,1: 2049)


Catatan kaki:

[1]Hadits ini menunjukkan bolehnya laki-laki menjenguk wanita yang sedang sakit, tentu saja dengan disertai adab-adab sesuai ketentuan syariat sehingga tidak membuka pintu fitnah.


Sumber: Muslim.or.id

SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru