Ketika Pohon Kurma Menangis

Oleh: Ustadz Muflih Safitra
Rio Agusri - Minggu, 25 Februari 2024 06:23 WIB
Ketika Pohon Kurma Menangis
Ilustrasi (foto int)
datanews.id -Hampir tidak ada pada zaman ini seorang khatib Jum'at yang berkhutbah tidak di atas mimbar. Mimbarnya pun bervariasi. Ada yang yang berbentuk kotak biasa seperti di perkampungan, ada yang beratap seperti di perkotaan, ada yang berbentuk tiga tangga seperti di beberapa pesantren, ada yang berbahan kayu nan sederhana seperti di masjid kecil, ada yang berbahan logam nan mewah seperti di masjid besar.


Lalu, bagaimanakah sejarah seputar mimbar yang dulu dipakai Nabi saat berkhutbah?

Asal Pembuatan Mimbar Nabishallallahu 'alaihi wa sallam

Sahl bin Sa'ad As-Sa'idiradhiyallahu 'anhuyang termasuk di antara para sahabat yang melihat Nabishallallahu 'alaihi wa sallampertama kali memakai mimbar bercerita, bahwa Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallammengutus salah seorang sahabat kepada seorang wanita Anshar. Beliau ingin agar wanita itu memerintahkan budaknya yang ahli pertukangan untuk membuatkan beliau sebuah mimbar agar dapat berkhutbah dan duduk di atasnya. Budak wanita tersebut kemudian membuat mimbar yang terbuat dari kayuthorfadari kota Ghabat (daerah sekitar Madinah ke arah Syam). Setelah jadi, mimbar tersebut pun kemudian dikirimkan kepada Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam.(HR. Bukhari no.917 dan Muslim no.544)


Bentuk Mimbar Nabishallallahu 'alaihi wa sallam

Mimbar Nabishallallahu 'alaihi wa sallamberbentuk tangga biasa bertingkat, dengan tiga anak tangga. Beliau berdiri dan berkhutbah di atas anak tangga kedua dan duduk (di antara dua khutbah) di atas anak tangga ketiga. (HR. Ad-Darimi dalam kitabSunannya (I/19) dan Abu Ya'la dalam kitabMusnadnya (I/19)), diriwayatkan dari Anas bin Malikradhiyallahu 'anhu)


Ibnu An-Najjarrahimahullahberkata, "Panjang mimbar Nabi adalah dua hasta satu jengkal dan tiga jari, sedangkan lebarnya satu hasta." (Akhbaar Madiinatir Rasuul (82))

Al-Hafizh Ibnu Hajarrahimahullahberkata, "Mimbar tersebut tetap dalam keadaan semula, hingga akhirnya di masa Khalifah Mu'awiyah, Gubernur Marwan bin Al-Hakam menambah tingkatannya menjadi enam tingkat." (Fathul Bari, 2: 399. Imam Nawawirahimahullahberkata, "Mimbar Nabishallallahu 'alaihi wa sallamterdiri dari tiga tangga sebagaimana hal ini ditegaskan dalam riwayat Muslim." (Syarh Muslim, 5: 33) (ed))


Dan Pohon pun Menangis

Sebelum ada mimbar yang dibuatkan oleh budak wanita Anshar tadi, Nabi biasa berkhutbah dengan bersandar pada sebatang pohon. Kemudian datang mimbar baru (yang dipesan Nabi kepada seorang budak wanita Anshar –pen). Tatkala mimbar tersebut diletakkan untuk menggantikan batang pohon yang lama, si pohon pun menangis keras hingga suaranya terdengar seperti unta hamil yang hampir melahirkan. Bahkan Nabi harus turun dari mimbar barunya lalu meletakkan tangannya di atas pohon tersebut (agar ia tenang –pen). (HR. Bukhari no.918, dari sahabat Jabir bin Abdillahradhiyallahu 'anhu)


Untukku dan Saudaraku…

Hasan Al-Bashrirahimahullahbila membicarakan hadits ini selalu menangis dan berkata, "Wahai hamba-hamba Allah, pohon saja merintih seperti unta melahirkan karena cinta dan rindu kepada Nabi-shallallahu 'alaihi wa sallam-yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Kita sebenarnya lebih layak untuk merindukan pertemuan dengan beliau." (Riwayat Abu Ya'la dalam Musnadnya no.2748)

Ya, seandainya sebatang pohon yang tidak mengalami hisab di hari kiamat bisa merasakan cinta dan rindu mendalam pada Nabi kita-shallallahu 'alaihi wa sallam-yang mulia, tentunya kita yang banyak melakukan dosa, akan ditimbang amalnya di hari pembalasan, belum ada jaminan untuk bisa masuk surga, jauh lebih membutuhkan rasa cinta dan rindu yang dirasakan pohon tersebut. Karena dengan rasa cinta dan rindu itu, serta buktinya yang nyata, maka di akhirat kelak kita akan dikumpulkan bersama Rasulullah-shallallahu 'alaihi wa sallam-dalam surga Allah yang disediakan hanya untuk orang-orang beriman dan beramal shalih.

Anas bin Malikradhiyallahu 'anhubercerita,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: "وَمَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ؟" قَالَ: حُبَّ اللَّهِ وَرَسُولِهِ. قَالَ: "فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ".

"Pernah seorang lelaki menemui Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallamdan bertanya, "Wahai Rasulullah, kapankah datangnya hari kiamat?" Beliau pun menjawab,"Apa yang sudah engkau siapkan untuk hari kiamat?"Ia menjawab, "Kecintaan(ku) kepada Allah dan Rasul-Nya." Maka beliaushallallahu 'alaihi wa sallampun bersabda,"Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai.""

Hingga Anas bin Malikradhiyallahu 'anhupun berkata,

فَمَا فَرِحْنَا بَعْدَ الإِسْلاَمِ فَرَحًا أَشَدَّ مِنْ قَوْلِ النَّبِىِّ صلّى الله عليه وسلم "فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ". فَأَنَا أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِأَعْمَالِهِمْ.

"Kami tidak pernah merasa gembira setelah masuk Islam, dengan kegembiraan yang lebih besar daripada setelah mendengar sabda Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wa sallam,"Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai." Aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar dan Umar, dan aku berharap akan ada bersama mereka (di hari kiamat –pen) walau aku tidak beramal sebagaimana mereka beramal."(HR. Muslim no.2639)

Semoga Allah menganugerahkan kita rasa cinta dan rindu yang besar kepada Nabishallallahu 'alaihi wa sallamdan sahabatnya serta mengumpulkan kita dengan mereka di tempat mulia, yang kenikmatannya tak pernah terlihat mata, terdengar oleh telinga dan terbersit di jiwa.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ


Sumber: muslim.or.id

SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru