Penyebab Seseorang Sulit Shalat Malam
Dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash, ia berkata bahwa Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallambersabda padanya,
يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ
"Wahai 'Abdullah janganlah seperti si fulan. Dahulu ia rajin shalat malam, sekarang ia meninggalkan shalat malam tersebut." (HR. Bukhari no. 1152 dan Muslim no. 1159).
Diceritakan oleh Hafshoh, Nabishallallahu 'alaihi wa sallampernah mengatakan mengenai 'Abdullah bin 'Umar,
نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ ، لَوْ كَانَ يُصَلِّى بِاللَّيْلِ . قَالَ سَالِمٌ فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ لاَ يَنَامُ مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَلِيلاً .
"Sebaik-baik orang adalah 'Abdullah (maksudnya Ibnu 'Umar) seandainya ia mau melaksanakan shalat malam." Salim mengatakan, "Setelah dikatakan seperti ini, Abdullah bin 'Umar tidak pernah lagi tidur di waktu malam kecuali sedikit." (HR. Bukhari no. 1122 dan Muslim no. 2479)
Ibnu Hajar Al Asqolani berkata, "Hadits dari Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash di atas menunjukkan akan disunnahkan merutinkan suatu ibadah yang baik tanpa menganggap remeh. Juga dapat dijadikan dalil akan makruhnya memutus suatu ibadah walaupun amalan tersebut bukanlah amalan yang wajib." (Fathul Bari, 3: 38).
Ibnu Hajar juga berkata, "Kesimpulannya, hadits di atas memotivasi seseorang agar semangat untuk rutin dalam melakukan suatu ibadah, juga bersikap sederhana dalam ibadah -yaitu tidak berlebih-lebihan dan tidak memandang remeh-. Adapun bersikap berlebih-lebihan (terlalu memaksakan diri dalam ibadah) akan membuat seseorang meninggalkan suatu ibadah." (Idem).
Dari perkataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada Hafshoh, kita dapat melihat bahwa jika disebut sebaik-baik orang adalah yang menjaga shalat malam, maka berarti orang yang mengerjakan shalat malam disifati dengan orang yang baik. Lihat perkataan Ibnu Hajar dalamFathul Bari, 3: 6.
Imam Nawawi dalamSyarh Shahih Muslim(16: 37) menyebutkan bahwa hadits tersebut menunjukkan akan keutamaan shalat malam.
Seandainya dapat dirutinkan shalat malam dengan dua raka'at, lalu ditutup witir tiga raka'at, maka itu lebih baik daripada shalat malam yang langsung banyak namun setelah itu terputus.
Dari 'Aisyah –radhiyallahu 'anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallambersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit." 'Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR. Muslim no. 783)
Shalat malam bukan dilakukan ketika susah saja, penuh utang, dirundung duka, namun ketika lapang pun ibadah harus tetap ada.
Sahkah Shalat Orang yang Bertato
Perbedaan Antara Masjid dan Mushalla
Dampak antara Shalat dan Maksiat Terhadap Rezki
Bolehkah Menunda Waktu Shalat Karena Pekerjaan?
Kiat Mendapatkan Pahala Shalat Semalam Suntuk