Jejak Teungku Syiah Kuala di Blang Oi Banda Aceh

Rahmat Rinaldi - Minggu, 26 Januari 2025 15:42 WIB
Jejak Teungku Syiah Kuala di Blang Oi Banda Aceh

Oleh: Hasnanda Putra

Syiah Kuala adalah salah satu ulama besar Aceh pada abad ke-17, yang memiliki nama asli Syekh Abdurrauf bin Ali Al-Jawi Al-Fansuri. Ia dikenal sebagai tokoh ulama yang berperan penting dalam pengembangan ilmu agama Islam dan pendidikan di Aceh. Julukan "Syiah Kuala" berasal dari tempat beliau mengajar dan berdakwah, yaitu di daerah Kuala Aceh, dekat muara Sungai Aceh. Salah satu lokasi yang memiliki hubungan erat dengan kisah hidupnya adalah Gampong Blang Oi, yang terletak di kawasan Banda Aceh.


Hubungan Syiah Kuala dengan Gampong Blang Oi
Gampong Blang Oi diyakini sebagai salah satu wilayah tempat Syiah Kuala pernah menyebarkan ilmunya dan membangun jaringan dakwah Islam. Di tempat ini, dulu terdapat sebuah balai pengajian dan tempat musyawarah yang dikenal dengan Balee Teungku Syiah.

Di tempat Balai ini diyakini Teungku Syiah Kuala pernah aktif mengajar ilmu agama kepada masyarakat setempat.

Untuk mengenang dan menghormati jejak ulama besar ini, nama Masjid indah khas Aceh di Blang Oi ini diberi nama Masjid Syekh Abdurrauf atau nama asli dari Teungku Syiah Kuala.

Syiah Kuala dikenal bukan hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai seorang faqih (ahli fiqih) dan sufi. Ia memiliki kontribusi besar dalam penulisan kitab dan tafsir Al-Qur'an, salah satunya adalah "Tafsir Tarjuman al-Mustafid," yang menjadi tafsir Al-Qur'an pertama dalam bahasa Melayu.

Pengaruh Syiah Kuala di Blang Oi
Di wilayah Banda Aceh seperti juga Gampong Blang Oi, semangat keilmuan dan ajaran tasawuf yang diajarkan Syiah Kuala tetap hidup melalui tradisi lokal dalam keseharian.

Kisah hidup Syiah Kuala menjadi inspirasi bagi masyarakat setempat untuk terus menghormati ilmu dan para ulama.

Makna Syiah Kuala bagi Aceh
Syiah Kuala menjadi simbol intelektualitas Islam di Aceh, dan kisahnya di Gampong Blang Oi maupun daerah lainnya menjadi pengingat akan kejayaan ilmu pengetahuan Islam di masa lalu. Tradisi yang ia bangun tidak hanya berpengaruh di Aceh, tetapi juga di Nusantara. Hingga kini, makamnya di Kuala Aceh menjadi tempat ziarah, dan namanya diabadikan sebagai nama Universitas Syiah Kuala (USK) di Banda Aceh. (*)

SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru