Kongres AS Setujui Resolusi Akhiri Konflik dengan Iran, Tekanan Domestik terhadap Trump Menguat
Dilaporkan Bloomberg, Rabu (24/6/2026), langkah tersebut muncul di tengah meningkatnya penolakan publik terhadap konflik yang dinilai memperburuk kondisi ekonomi dan memicu tekanan inflasi di AS.
Dalam pemungutan suara di Senat, sebanyak 50 senator mendukung penghentian perang dengan Iran, sementara 48 senator lainnya menolak. Sebelumnya, resolusi serupa telah lebih dahulu disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS.
Melalui resolusi tersebut, pemerintah AS diwajibkan menghentikan tindakan permusuhan terhadap Iran, kecuali jika Kongres kembali memberikan persetujuan resmi untuk melanjutkan operasi militer.
Menariknya, berdasarkan Undang-Undang Wewenang Perang (War Powers Act) tahun 1973, Presiden Donald Trump tidak memiliki kewenangan untuk memveto resolusi tersebut.
Meski demikian, dampak langsung keputusan Kongres terhadap hubungan AS-Iran masih belum sepenuhnya jelas. Kedua negara diketahui telah menyepakati gencatan senjata dan kini sedang melanjutkan perundingan menuju kesepakatan akhir.
Namun, keputusan parlemen ini dinilai memiliki arti politik yang besar karena menunjukkan terbatasnya dukungan domestik bagi pemerintahan Trump untuk mempertahankan konflik.
Sentimen publik juga menunjukkan kecenderungan serupa. Dalam jajak pendapat CBS News yang dirilis pada Minggu, sebanyak 69 persen warga Amerika menilai perang tersebut tidak sebanding dengan biaya yang harus ditanggung. Bahkan, 78 persen responden menyatakan AS sebaiknya segera mengakhiri konflik.
Keputusan Kongres ini diperkirakan akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan luar negeri AS sekaligus posisi Washington dalam proses negosiasi dengan Teheran ke depan. (*)
Iran Ancam Gempur Israel Lagi
AS dan Iran Capai Kesepakatan Damai, Selat Hormuz Bersiap Dibuka Kembali
Iran Tutup Total Selat Hormuz, Ancam Targetkan Semua Kapal yang Melintas
Iran Peringatkan AS Tinggalkan Teluk Persia Usai Serangan Udara di Dekat Selat Hormuz
Iran dan Israel Saling Serang, Ketegangan Timur Tengah Kembali Memanas