AS dan Iran Capai Kesepakatan Damai, Selat Hormuz Bersiap Dibuka Kembali
Menurut pernyataan kedua pemimpin, dokumen perdamaian itu dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat mendatang setelah serangkaian perundingan intensif yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Penandatanganan tersebut diproyeksikan menjadi titik balik penting dalam upaya meredakan ketidakstabilan kawasan sekaligus memulihkan kepercayaan pasar global yang sempat terguncang akibat konflik.
Trump bahkan menyatakan seluruh poin utama dalam perjanjian dengan Teheran telah disepakati dan kini tinggal memasuki tahap finalisasi administratif sebelum ditandatangani.
"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah lengkap," tulis Trump melalui platform Truth Social pada Minggu waktu setempat.
Sementara itu, Sharif mengungkapkan bahwa pakta perdamaian tersebut mencakup penghentian permanen seluruh operasi militer di berbagai front konflik yang selama ini melibatkan kepentingan kedua pihak maupun aktor regional lainnya.
"Penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon," tulis Sharif melalui unggahannya di platform X.
Meski rincian final belum diumumkan kepada publik, sejumlah sumber yang mengetahui jalannya negosiasi menyebut kesepakatan mencakup langkah-langkah konkret untuk memulihkan stabilitas ekonomi dan keamanan kawasan. Salah satu poin yang paling mendapat perhatian adalah rencana pembukaan kembali Selat Hormuz—jalur laut strategis yang menjadi penghubung utama perdagangan energi dunia dan selama berbulan-bulan terdampak langsung oleh konflik.
Selain pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut, blokade angkatan laut AS terhadap sejumlah pelabuhan Iran juga disebut akan diakhiri secara bertahap sebagai bagian dari mekanisme pembangunan kepercayaan antar kedua negara.
Trump turut menyoroti dampak ekonomi dari kesepakatan tersebut.
"Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!" tulisnya, merujuk pada potensi normalisasi distribusi energi global yang selama konflik mengalami gangguan signifikan.
Sebelumnya, sumber Reuters mengungkapkan bahwa draf perjanjian memang memuat sejumlah agenda utama, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian blokade maritim, serta perpanjangan skema gencatan senjata. Namun, isu paling sensitif—yakni program nuklir Iran—belum sepenuhnya diselesaikan dan akan dibahas dalam putaran negosiasi lanjutan selama 60 hari setelah penandatanganan.
Konflik antara AS dan Iran sendiri telah menelan ribuan korban jiwa sejak eskalasi militer dimulai pada 28 Februari lalu. Bentrokan tersebut tidak hanya berdampak terhadap kondisi kemanusiaan di kawasan, tetapi juga mengguncang ekonomi global melalui lonjakan harga energi, gangguan distribusi minyak, dan meningkatnya biaya logistik internasional.
Ketegangan semakin meningkat ketika Iran menutup akses Selat Hormuz dan melancarkan serangan terhadap sejumlah target yang dikaitkan dengan kepentingan AS dan sekutunya di Timur Tengah. Situasi itu memicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan krisis energi berskala global.
Dari sisi substansi kesepakatan, seorang pejabat senior Iran sebelumnya mengungkapkan bahwa Washington akan melepaskan aset Iran yang selama ini dibekukan dengan nilai mencapai US$25 miliar atau sekitar Rp444 triliun. Sebagai imbalannya, Teheran disebut berkomitmen untuk tidak memproduksi maupun memperoleh senjata nuklir.
Iran juga dikabarkan bersedia mempertahankan status quo program nuklirnya, termasuk tidak meningkatkan tingkat pengayaan uranium serta tidak memperluas fasilitas nuklir selama masa negosiasi lanjutan berlangsung.
Di sisi lain, pejabat AS menyatakan bahwa kesepakatan jangka panjang nantinya diharapkan mengarah pada pengurangan kapasitas program nuklir Iran secara bertahap, termasuk penghancuran fasilitas tertentu dan pemindahan cadangan uranium yang telah diperkaya.
Meskipun pengumuman ini disambut positif oleh pasar dan sejumlah negara mitra, jalan menuju perdamaian penuh masih menghadapi tantangan politik domestik di kedua pihak.
Di Iran, kelompok garis keras dilaporkan mulai menunjukkan penolakan terbuka terhadap kerangka kesepakatan tersebut. Dalam demonstrasi yang berlangsung di sejumlah kota pada akhir pekan lalu, para peserta aksi menyerukan penolakan terhadap kompromi dengan Washington dan menilai perjanjian itu berisiko melemahkan posisi strategis Iran di kawasan.
Pengamat menilai keberhasilan implementasi perjanjian nantinya tidak hanya bergantung pada isi dokumen yang ditandatangani, tetapi juga pada kemampuan kedua negara menjaga komitmen politik dan mengelola tekanan dari kelompok internal yang selama ini menentang normalisasi hubungan. (*)
Pertahankan Predikat Informatif, Pemko Langsa Siapkan Diri Hadapi Penilaian KIP 2026
Iran Tutup Total Selat Hormuz, Ancam Targetkan Semua Kapal yang Melintas
Harga Emas Antam Kembali Turun, Investor Pantau Pergerakan Pasar
Iran Peringatkan AS Tinggalkan Teluk Persia Usai Serangan Udara di Dekat Selat Hormuz
Iran dan Israel Saling Serang, Ketegangan Timur Tengah Kembali Memanas